Saturday, 23 June 2018 - Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu dan Minggu Libur
Home » Keislaman » Ubudiyah » Tatacara dan Ketentuan Qashar Shalat
Keranjang Belanja Anda
Jumlah Barang : pcs
Jumlah Nama Barang Total
0 Rp 0,00
keranjang anda kosong

* Klik tombol di bawah ini untuk menyelesaikan pemesanan.

Tatacara dan Ketentuan Qashar Shalat

25 December , 2017 , Category : Keislaman, Ubudiyah
Tatacara dan Ketentuan Qashar Shalat

Tatacara dan Ketentuan Qashar Shalat

Seseorang yang melakukan bepergian jauh diberi keringanan (rukhsah) dalam tatacara pelaksanaan shalat. Agama memperbolehkan seorang musafir melakukan peringkasan (qashar) dalam shalat berjumlah empat rakaat menjadi dua rakaat, yakni shalat zhuhur, ashar dan isya’. Konsensus (ijma’) ulama tidak memperbolehkan qashar untuk shalat maghrib dan subuh.

Allah SWT berfirman di dalam Surat An-Nisa’ ayat 101.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

Artinya, “Ketika kalian bepergian di bumi, maka bagi kalian tidak ada dosa untuk meringkas shalat.”

Perincian hukum melaksanakan qashar dibedakan sebagai berikut.

1. Jawaz (boleh).
Seseorang boleh melakukan qashar bila perjalanan sudah mencapai 84 mil/16 Farsakh atau 2 Marhalah/80,640 km (8 kilometer lebih 640 m), tetapi belum mencapai 3 Marhalah/120, 960 km (120 kilometer lebih 960 meter). Qashar boleh dilakukan oleh mereka yang selalu bepergian di darat maupun laut, baik mempunyai tempat tinggal ataupun tidak. Dalam jarak sekian ini mereka semua sunah/lebih baik tidak melakukan qashar.

2. Lebih baik (Afdhal) melakukan qashar.
Orang lebih baik melakukan qashar bila jarak tempuh mencapai 3 marhalah atau lebih.

3. Wajib
Apabila waktu shalat tidak cukup untuk digunakan kecuali dengan cara meringkas shalat (qashar), maka ia wajib qashar.

Syarat-Syarat Qashar Shalat
1. Bepergian tidak untuk bertujuan maksiat, yaitu yang mencakup bepergian wajib seperti untuk membayar hutang, bepergian sunah seperti untuk menyambung persaudaraan, atau bepergian yang mubah seperti dalam rangka berdagang.

2. Jarak yang akan ditempuh minimal 2 marhalah/16 farsakh (48 mil)/4 barid/perjalanan 2 hari. Sedangkan dalam menentukan standar jarak menurut ukuran sekarang terdapat beberapa pendapat:
a. Jarak 80,64 km (8 km lebih 640 m) (Lihat Al-Kurdi, Tanwirul Quluub, Thoha Putra, juz I hal 172).

b. Jarak 88, 704 km (Lihat Al-Fiqhul Islami, juz I, halaman 75).

c. Jarak 96 km bagi kalangan Hanafiyah.

d. Jarak 119,9 km bagi mayoritas ulama.

e. Jarak 94,5 km menurut Ahmad Husain Al-Mishry.

Kemudian, seorang musafir diperkenankan melaksanakan qashar setelah melewati batas desa (pada desa yang ada batasnya) atau melewati bangunan atau perumahan penduduk. Begitu pula batas akhir dia boleh menggunakan hak qashar adalah ketika dia pulang dan sampai pada batas-batas di atas atau sampai pada tempat tujuan yang telah ia niati untuk dijadikan tempat mukim.

3. Shalat yang di-qashar adalah shalat ada’ (shalat yang dikerjakan pada waktunya/bukan qadha’) atau shalat qadha’ yang terjadi dalam perjalanan. Sedangkan shalat qadha’ dari rumah tidak boleh di-qashar.

4. Niat qashar shalat saat takbiratul ihram. Sedangkan niatnya sebagai berikut.

أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ مَقْصُوْرَةً ِللهِ تَعَالَى

Artinya, “Saya niat shalat fardhu zhuhur dengan qashar karena Allah ta’ala.”

Atau bisa dengan niat sebagai berikut.

أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالَى

Artinya, “Saya niat shalat dhuhur dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Niat di atas diharuskan terjaga selama shalat berlangsung, dan seandainya terjadi keraguan pada seseorang ketika shalat (semisal ragu-ragu qashar ataukah menyempurnakan, sudah melakukan niat qashar ataukah belum dan sebagainya), maka baginya diwajibkan untuk menyempurnakan shalat (itmam), namun tidak harus membatalkan shalatnya akan tetapi langsung diteruskan tanpa meng-qashar.

5. Tidak dilakukan dengan cara mengikuti (bermakmum) kepada imam yang melaksanakan shalat itmam (tidak meng-qashar), baik imam tersebut berstatus musafir ataukah muqim (tidak bepergian) atau pada imam yang masih diragukan keadaan bepergiannya.

6. Mengetahui tentang diperbolehkannya melakukan shalat dengan cara qashar. Bukan hanya sekadar ikut tanpa mengetahui boleh dan tidaknya qashar.

7. Dilaksanakan ketika masih yakin dirinya (Al-Qashir) masih dalam keadaan bepergian sehingga ketika di tengah-tengah shalat muncul keraguan atau bahkan yakin dirinya telah sampai di daerah muqimnya (desanya) kembali, maka ia berkeharusan menyempurnakan shalatnya.

8. Bepergian dengan tujuan yang jelas (daerah/tempat tertentu) sehingga seperti orang yang kebingungan mencari tempat tujuan (Al-Haim), orang yang pergi mencari sesuatu yang tidak jelas tempatnya, dan sebagainya tidak diperkenankan untuk meng-qashar shalat. Wallahu a‘lam. (Mohammad Sibromulisi)

Sumber : nu.or.id

Pakar Al-Qur’an: Ada Dua Anugerah Terbesar Umat Islam

1 June , 2018 , Kategori : Nasional
Pakar Al-Qur’an: Ada Dua Anugerah Terbesar Umat Islam

Pakar Al-Qur’an KH Ahsin Sakho Muhammad mengatakan, ada dua anugerah sangat besar dilimpahkan Allah kepada umat manusia pada umumnya dan umat islam pada khusnya, yaitu diutusnya Nabi Muhammad di akhir zaman dan Al-Qur’an. Dengan kedua anugerah ini manusia bisa... baca selengkapnya

Keistimewaan Orang yang Sibuk Membaca Al-Qur’an

30 May , 2018 , Kategori : Keislaman, Ubudiyah
Keistimewaan Orang yang Sibuk Membaca Al-Qur’an

Di antara pintu terbesar untuk mencapai kelapangan hidup agar tidak terjebak dalam kesempitan yang membelenggu adalah dengan membaca Al-Qur’an. Hati bisa sewaktu-waktu berkarat sebagaimana besi, mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an merupakan media pembersih karat tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu... baca selengkapnya

Puasa Wajib Bukan Hanya Puasa Ramadhan

23 May , 2018 , Kategori : Keislaman, Syariah
Puasa Wajib Bukan Hanya Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan bukan hanya diwajibkan secara khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW saat ini, melainkan juga yang diwajibkan kepada umat terdahulu. Tata cara puasanya sebagaimana yang kita lakukan adalah spesial bagi umat beliau saja. Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan... baca selengkapnya

8 Adab Umum Muslim di Hari Jumat

18 May , 2018 , Kategori : Keislaman, Ubudiyah
8 Adab Umum Muslim di Hari Jumat

Hari Jumat memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Terdapat beberapa aktivitas ibadah yang secara khusus dianjurkan oleh syariat pada hari Jumat. Oleh karenanya, hari Jumat disebut dengan hari ibadah. Khusus bagi orang yang hendak menjalankan shalat Jumat,... baca selengkapnya

Larangan Merusak Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Islam

14 May , 2018 , Kategori : Keislaman, Syariah
Larangan Merusak Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Islam

Dalam kitab at-Tabaqât karya Ibnu Sa’d dikisahkan bahwa ketika datang utusan Kristen dari Najran berjumlah enam puluh orang ke Madinah untuk menemui Nabi, Nabi menyambut mereka di Masjid Nabawi. Menariknya, ketika waktu kebaktian tiba, mereka melakukan kebaktian di masjid.... baca selengkapnya

Categories

Terima Kasih Atas Kunjungannya



SEO Powered By SEOPressor